Tidak menerima Takdir?
Temanku tidak bisa menerima takdir hidupnya. Walhasil masalah demi masalah menimpanya. Saya pun mencoba menasihatinya. Saya juga takut akan seberapa besar bahaya dari tidak menerima takdir. Lalu saya bertanya kepada seorang ustadzah, "Tidak menerima Takdir itu.. Sebahaya apa sih?
Lalu jawabannya adalah : "Baanget. Baangett.."
Berikut penjelasan tentang perkara ini :
Kenapa sangat berbahaya? Karna hal ini termasuk ke rukun Iman. Dimana kita harus mengimani semuanya. Tidak bisa memilih dan meninggalkan 1 di belakang. Semua adalah satu kesatuan.
Tapi jangan salah faham. Tidak menerima kenyataan bukan berarti dia kafir. Ia berdosa tapi tidak sampai derajat kafir kecuali memang ia tak percaya dengan qadha dan qadar.
Memang hal ini hal yang paling susah, apalagi bagi yang hidupnya "susah" dalam tanda kutip. Karna itulah beriman kepada qadha dan qadar atau takdir, adalah rukun yang terakhir. Karna itu yang paling sulit. Sama halnya seperti haji yang merupakan rukun islam terakhir. Tetapi haji wajib bagi yang mampu, tidak dengan iman kepada takdir. Rasul menjelaskan bahwa haji hukumnya wajib hanya bagi yang mampu, tapi teks itu tidak ada di rukun iman.
Rasulullah bersabda saat jibril bertanya "Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim, no. 8)
Kita harus percaya dengan takdir yang baik maupun yang buruk (di mata kita). Semua yang terjadi adalah takdir Allah yang tertulis di lauhil mahfuudz. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat.
Hal ini terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ ﴿٢٢﴾
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Q.S. Al-Hadid:22)
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {70}
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70).
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59).
Dan masih baanyak sekali dalil yang menjelaskan hal tersebut.
Langkah untuk menerima kenyataan.
Pertama adalah ridha.
Terimalah. Kita hanya hamba dan ga bisa rubah apa". Yhaaaa Yowes terima aja. Memangnya.. Mau diapain lagi? Orang ga bisa di rubah. Iya kan? Kita ga berhak dan ga layak untuk protes. Wong kita ini hamba loh. Lebih rendah kedudukannya dari budak. Lalu Kejadian itu tidak ada di tangan kita, tetapi ada di tangan Allah. Kita tidak bisa apa-apa selain menerima.
Kalau mau main logika : kita punya 2 pilihan, menerima dan tidak menerima. Dan kedua pilihan itu tidak akan merubah yang lalu. Tidak akan merubah kenyataan! Tapi jika kita menerima, itu adalah langkah pertama agar hidup kita membaik dan membaik. Sedangkan jika kita menolak dan ga rela, itu akan melemahkan iman kita, dan akan menghalangi berbagai kebaikan yang ingin masuk ke kehidupan kita. Kita juga akan stuck di masa lalu dan tidak bisa menjalani hidup kedepannya. Dan yang lebih penting, kita menolak pun tidak akan merubah apa-apa di masa lalu. Tidak akan merubah kenyataan. Jadii yang satu penuh keuntungan dan yang satu penuh kerugian. Mendatangkan masalah demi masalah. Jadi pilih yang mana? Pastinya menerima walau sakit
Kedua sabar.
Setelah menerima dan ridha, kita sabar atas takdir tersebut. Sulit? Iya. Berat? Iya. Sakit? Iya. Tetapi bersabarlah atas apa yang menimpa kamu walau itu berat. Islam pun mengakui kalau di hidup ini ada hal" yang kita tidak sukai. Yang kelihatan buruk di mata manusia. Tapi wahai saudara ku seiman. Bersabarlah. Bersabarlah karna ini bukan lah akhir dari segalanya. Bersabarlah karna Allah maha adil. Saat Allah mengambil nikmat yang Allah titipkan di kita, Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Percayalah bahwa setiap ada yang dikurangkan, ada yang dilebihkan. Karna Allah maha adil. Bersabarlah karena balasan orang yang sabar tidak dapat dihitung. Pahalanya tak terbatas.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. [An-Nahl : 96]
إنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. [Az-Zumar : 10]
Luar biasa bukan? Dan jangan lupa bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. [Ali Imran : 146]
Begitulah langkah-langkah untuk menerima kenyataan. Semoga kita semua bisa menerima segala sesuatu yang ada di dalam hidup kita, hal-hal yang sudah lampau, dan juga musibah yang menimpa kita. Semoga kita bisa kembali menyempurnakan iman kita yang merupakan satu-satunya hal yang berharga bagi kita di hari akhir nanti. Iman kita yang merupakan kunci surga dan jawaban dari berbagai macam persoalan dan masalah di dunia ini. Tanpa iman kita tidak bisa menghadapi ujian di dunia. Dan tanpa iman, percuma lah segala yang kita lewati. Jangan sampai kita kehilangan iman kita.
Mari kita doakan juga orang di luar sana yang juga sedang mengalami kesulitan dalam menerima takdir. Semoga Allah beri hidayah dan kembalikan ia ke jalan yang lurus
Wallahu a'lam bisshawaab.
و صلى الله عليه وآله وصحبه وبارك وسلم
Comments
Post a Comment